TRIBUN-TIMUR.COM, JAKARTA โ Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatat penguatan signifikan pada perdagangan hari ini, Kamis (17/7/2026). Rupiah ditutup di level Rp15.240 per dolar AS, menguat 85 poin atau 0,55 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp15.325 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini didorong oleh masuknya aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen. Keputusan ini dinilai memberikan kepastian bagi investor akan stabilitas moneter domestik dalam jangka pendek.
Namun di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan pergerakan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. IHSG ditutup turun 0,32 persen ke level 7.124 setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di 7.186 pada sesi pertama perdagangan.
Faktor Pendorong dan Penghambat
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro, menjelaskan sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah dan IHSG saat ini:
- Suku bunga acuan โ BI mempertahankan BI-Rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar
- Neraca perdagangan โ surplus perdagangan Indonesia terus berlanjut, mendukung pasokan valuta asing
- Inflasi terkendali โ inflasi Juni di level 2,8 persen year-on-year, masih dalam sasaran BI
- Sentimen global โ ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed masih membayangi pasar negara berkembang
- Arus modal asing โ aliran dana asing masuk ke SBN mencapai Rp8,2 triliun dalam sepekan terakhir
"Rupiah saat ini mendapat angin segar dari kebijakan BI yang konsisten. Namun IHSG masih perlu mencerna berbagai sentimen global, terutama sinyal dari bank sentral AS mengenai arah suku bunga ke depan," ujar Andry dalam keterangan resminya.
"Rupiah saat ini mendapat angin segar dari kebijakan BI yang konsisten. Namun IHSG masih perlu mencerna berbagai sentimen global, terutama sinyal dari bank sentral AS mengenai arah suku bunga ke depan." โ Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri
Prospek ke Depan
Analis pasar modal dari Mirae Asset Sekuritas, Roger MM, memproyeksikan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat dalam jangka menengah seiring meredanya kekhawatiran pasar global. "Fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Pertumbuhan PDB triwulan II diperkirakan di atas 5 persen, dan ini akan menjadi katalis positif bagi pasar saham," jelas Roger.
Sementara itu, Bank Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir tahun 2026, sejalan dengan target inflasi dan stabilitas nilai tukar. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan bahwa prioritas kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah sambil tetap mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi perdagangan, Kementerian Keuangan mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mencapai 2,8 miliar dolar AS, lebih tinggi dari prediksi pasar sebesar 2,3 miliar dolar AS. Surplus yang berkelanjutan ini menjadi bantalan bagi rupiah dari tekanan eksternal.
Masyarakat dan pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap volatilitas yang mungkin terjadi akibat perubahan kebijakan moneter global. Diversifikasi investasi dan pengelolaan risiko yang baik menjadi kunci dalam menghadapi kondisi pasar yang masih fluktuatif.
KOMENTAR